Saturday, July 13, 2024
Google search engine
HomeUncategorizedUntung Rugi Membeli Tunai Bertahap - Housing-Estate.com - Portal Berita Properti No....

Untung Rugi Membeli Tunai Bertahap – Housing-Estate.com – Portal Berita Properti No. 1 di Indonesia

Housing-Estate.com, Jakarta – Developer selalu punya cara untuk untuk keluar dari persoalan yang dihadapi. Tatkala konsumen susah mencari KPR dan tidak punya uang tunai pengembang menawarkan pembayaran secara tunai bertahap alias installment.  Installment adalah angsuran kepada pengembang, umumnya 2-3 tahun (24 -36 bulan), tapi ada juga yang lebih panjang 5 tahun. Konsumen diminta membayar depe 20-30 persen, sisanya diangsur bulanan yang lamanya sesuai perjanjian.

Ilustrasi

Ilustrasi

Pembayaran tunai bertahap saat ini diterapkan hampir seluruh pengembang apartemen. Sesuai beleid Bank Indonesia (BI) perbankan memang dilarang membiayai properti inden, proyeknya belum jadi atau baru gambar. Pengembang umumnya menawarkan installment 2-3 tahun dengan asumsi angsuran lunas pembangunannya sudah selesai.  Saat itu konsumen bisa mencari KPA ke bank untuk menutup atau mengganti angsuran yang sudah dibayarkan ke pengembang.

Semakin panjang angsurannya harga yang ditawarkan pengembang makin tinggi. Ini karena pengembang memperhitungkan faktor bunga. Namun, menurut Meiko Handoyo, Direktur Ciputra Group, pengembang sejumlah perumahan dan proyek apartemen, asumsinya tidak persis seperti itu. Harga lebih tinggi itu, katanya, bukan semata-mata bunga tapi net present value. Sebab, pada saat propertinya selesai dibangun 2-3 tahun mendatang nilainya lebih tinggi dari sekarang.

“In house financing yang ditawarkan pengembang menguntungkan konsumen, kalau dibanding dengan inflasi harga properti yang dibeli masih lebih tinggi,” ujarnya kepada housing-estate.com di Jakarta, Selasa (26/7).

Meiko mengakui kendati menguntungkan pembayaran tunai bertahap ada risikonya.  Misalnya proyek yang dibeli tertunda bahkan tidak jadi dibangun. Jika itu yang terjadi konsumen pasti dirugikan.  Ia menyarankan jangka waktu yang diambil jangan lebih dari tiga tahun. Sebab,  semakin panjang pengembang lebih sulit memprediksi biaya yang dikeluarkan. Apalagi bila situasi perekonomian fluktuatif  harga material dan ongkos-ongkos lainnya juga sulit diprediksi. “Kalau terlalu lama kita takut cost-nya bisa meledak di ujung dan ini merugikan pengembang. Sementara konsumen bayarnya tetap,” ujarnya.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments