Monday, July 15, 2024
Google search engine
HomeUncategorizedPengembang Sambut Dingin Pelonggaran Depe KPR - Housing-Estate.com - Portal Berita Properti...

Pengembang Sambut Dingin Pelonggaran Depe KPR – Housing-Estate.com – Portal Berita Properti No. 1 di Indonesia

Housing-Estate.com, Jakarta – Setelah sekian lama disuarakan kalangan pengembang Bank Indonesia (BI) akhirnya merevisi aturan tentang loan to value (LTV) atau rasio pinjaman dengan nilai aset. LTV merupakan batas tertinggi kredit yang bisa diberikan bank penyalur KPR yang membatasi maksimal 70 persen untuk rumah tipe 70 m2 ke atas sehingga konsumen wajib menyediakan uang muka sebesar 30 persen.

Amran Nukman, Ketua DPD Realestat Indonesia (REI)

Amran Nukman, Ketua DPD Realestat Indonesia (REI)

Deputi Gubernur BI Halim Alamsyah, untuk rumah tipe 70 m2 ke atas bank dibolehkan dibolehkan membiayai maksimal 80 persen atau naik sebesar 10 persen dari ketentuan sebelumnya sebesar 70 persen. Dengan demikian konsumen cukup menyediakan uang muka atau depe 20 persen dari sebelumnya 30 persen. Relaksasi uang muka ini hanya terbatas pada bank penyalur KPR yang nilai non performing loan (NPL) atau kredit bermasalahnya tidak lebih dari 5 persen. Bila NPL di atas angka itu masih tetap diberlakukan aturan lama, yaitu pembiayaan maksimal 70 persen.

“Jadi rata-rata dinaikan sebesar 10 persen, begitupun untuk ketentuan KPR rumah kedua dan seterusnya, masing-masing dinaikan 10 persen sementara untuk bank syariah naik 5 persen. Untuk rumah kedua dan seterusnya di bawah tipe 70 persen LTV-nya juga dinaikan 10 persen,” ujarnya kepada media di Jakarta, Selasa (26/5).

Namun relaksasi depe KPR ini  ditanggapi dingin oleh kalangan pengembang. Amran Nukman, Ketua DPD Realestat Indonesia (REI) DKI Jakarta menyebut pelongaran ini tidak banyak pengaruhnya terhadap pasar properti. Pertumbuhan sektor ini sekarang terhalang oleh dampak kenaikan harga BBM dan tingkat suku bunga kredit yang masih tinggi.

“Pelonggaran LTV saat ini seperti hiburan saja, efeknya paling hanya akan meningkatkan industri properti 10-15 persen. Bandingkan dengan sebelum pemerintah memberlakukan aturan ini, pertumbuhan properti saat itu mencapai 40-50 persen,” ujarnya.

Menurut Amran, kalau pertumbuhan industri properti ingin dikembalikan seperti dulu seharusnya aturan tentang LTV tidak perlu ada, demikian juga soal KPR inden. Jadi, penghapusan LTV dan KPR inden menjadi satu paket untuk mendorong pertumbuhan sektor property. “Selama dua hal ini masih diatur oleh pemerintah kita nggak bisa berharap pertumbuhan akan sebagus dulu. Jadi,  kalau baru sekarang LTV dilonggarkan, saya menyebutnya hiburan sesaat saja,” tandasnya.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments