Friday, March 1, 2024
Google search engine
HomeUncategorizedPembayaran Tunai Bertahap Lebih Berisiko - Housing-Estate.com - Portal Berita Properti No....

Pembayaran Tunai Bertahap Lebih Berisiko – Housing-Estate.com – Portal Berita Properti No. 1 di Indonesia

Housing-Estate.com, Jakarta – Kebijakan Bank Indonesia (BI) yang melarang bank membiayai pembelian properti belum jadi (inden) mendorong kalangan pengembang menawarkan cara pembayaran tunai bertahap. Pembayaran tunai bertahap atau installment bervariasi. Untuk rumah biasa (landed house) umumnya 18-24 kali. Sedangkan apartemen 36 kali atau tiga tahun, sesuai dengan perkiraan lamanya pembangunan.

Ilustrasi

Ilustrasi

Tapi pembayaran dengan cara installment ini cukup berisiko bagi konsumen. Akte jual beli (AJB) yang merupakan dokumen resmi untuk pembelian properti tidak bisa dikeluarkan selama bangunannya belum jadi sehingga konsumen hanya mendapatkan surat perjanjian pengikatan jual beli (PPJB) antara developer dan konsumen. Namun, sifatnya belum otentik karena pelimpahan hak atas tanah dan bangunan belum terjadi.

Lebih jauh lagi PPJB keluar setelah konsumen membayar sekitar 10-20 persen dari harga jual. Menurut pengamat properti dari Indonesia Property Watch (IPW) Ali Tranghanda, banyak rupa-rupa istilah untuk transaksi installment untuk pembelian apartemen. PPJB hanya merupakan transaksi dua belah pihak antara konsumen dan developer sehingga bila ada wanprestasi penyelesaiannya secara hukum menjadi kurang kuat.

“Ada juga istilah pra PPJB, yang seperti ini biasanya akal-akalan pengembang bahkan ada juga yang kongkalikong dengan notaris biar terkesan lebih resmi. Bagaimana pun PPJB itu belum dokumen resmi, makanya untuk pembelian installment kita harus memastikan developernya bonafid, karena kalau terjadi masalah pasti developer yang menang,” ujarnya kepada housing-estate.com di Jakarta, Jumat (27/2).

Bila di kemudian hari terjadi masalah, umumnya konsumen yang sudah mengangsur pembayaran menjadi pihak yang paling dirugikan. Seperti beberapa kasus yang pernah terjadi, developer cukup menyebut perusahaannya pailit dan proyek tersebut bisa dijual atau pun diambilalih oleh perusahaan lain yang kemudian akan menjual kembali proyek tersebut.

Hanya saja, menurut Wahjono, Direktur Utama PT Stratindo Kapital Indonesia, pengembang apartemen Metropolitan Park Bekasi, hal yang terjadi di lapangan tidak sesederhana itu. Menurutnya, antara cicilan yang bisa mencapai 36 kali (3 tahun) dengan proses pembangunan yang bisa selesai dalam 1,5 tahun juga harus diperhatikan.

“Timing kita mulai membangun dengan serah terima itu harus tepat, karena kalau bangunan jadi dan konsumen belum lunas pembayarannya, sebagai developer kita keluar cost untuk perawatan gedung tersebut. Konsumen juga nggak mau diserahterimakan unitnya karena nanti terkena tanggung jawab membayar service charge, jadi ada tarik ulur seperti itu,”jelasnya.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments