Monday, July 15, 2024
Google search engine
HomeUncategorizedMenumbuhkan Green Lifestyle - Housing-Estate.com - Portal Berita Properti No. 1 di...

Menumbuhkan Green Lifestyle – Housing-Estate.com – Portal Berita Properti No. 1 di Indonesia

Komunitas Hijau Pondok Indah (KHPI) berupaya mewujukan lingkungan hunian yang lebih hijau

Housing-Estate.com, Jakarta – Sebagai kawasan hunian kalangan atas di Pondok Pinang, Jakarta Selatan, kebanyakan orang melihat perumahan Pondok Indah (PI) sudah bagus lansekapnya. Pepohonannya banyak dan rindang kendati tanpa pedestrian, dan pemeliharaan lingkungannya berjalan baik, selaras dengan karakteristik kawasan selatan Jakarta sebagai daerah resapan air. Tapi, siapa bilang semua warga PI puas dengan lingkungan huniannya? Apalagi dengan iklim yang kian tak menentu dan banjir besar yang makin kerap melanda Jakarta, orang perlu makin concern terhadap gaya hidup hijau (green lifestyle) supaya lingkungan yang nyaman itu tetap terpelihara.

Berangkat dari kesadaran itu bulan Juni 2008 beberapa penghuni PI membentuk Komunitas Hijau Pondok Indah (KHPI) dengan target membuat lingkungan PI menjadi lebih baik. “Orang melihat PI sudah bagus, tapi kita sebagai penghuni, sebagai orang dalam, melihat ada sisi-sisi lain yang harus dibuat lebih baik lagi. Makanya kita bentuk komunitas ini,” kata Roosie Setiawan, pembina sekaligus pendiri KHPI. KHPI didirikan Ricky Lestari (saat ini menjadi ketua), Hestia (sekarang sekretaris), dan Roosie. Saat ini KHPI sudah beranggota 40 orang.

Sulit

Tujuan pendirian komunitas tidak mulukmuluk, membuat lingkungan hunian yang lebih baik melalui program memilah sampah dan membuat kompos untuk mereduksi pembuangan sampah ke tempat pembuangan akhir (zero waste), mempertahankan ruang terbuka hijau (RTH), mengurangi pelepasan air ke luar lingkungan perumahan (zero run off), mengedukasi warga mengenai budaya hidup hijau, dan lain-lain.

Program memilah sampah sejak di rumah dilakukan dengan melibatkan pengurus RT. Untuk itu dibuatkan pilot project guna memudahkan pemahaman. Hasilnya, dari awalnya baru bisa diterapkan di tiga RT, saat ini program pemilahan sampah itu sudah bisa dijalankan di enam RT mencakup 1.200 KK. Tidak hanya memilah sampah di rumah, KHPI juga mengedukasi petugas pemungut sampah dan pemulung untuk tidak mencampur lagi sampah yang sudah dipilah.

Bahkan, sampah kering seperti kertas, plastik, logam, dan sejenisnya dipilah secara khusus karena sebagian masih bisa dijual. “Sampah kering dari tiga RT saja bisa memberikan tambahan penghasilan Rp200–300 ribu per bulan untuk pemulung. Ini juga yang memotivasi kami (mengelola komunitas),” kata Roosie. Untuk mengedukasi warga mengenai konsep reduce, reuse, recycle (3R) dalam pengelolaan sampah, KHPI membagikan stiker dan brosur termasuk kepada satpam perumahan.

Nyatanya, secara umum amat sulit membangun kesadaran dan menggalang partisipasi warga. Sikap penghuni perumahan yang umumnya kalangan berada yang super sibuk itu cenderung cuek. “Kami edukasi juga para pembantu rumah tangga karena mereka yang lebih banyak di rumah. Ini pun nggak mudah karena pembantunya sering sekali berganti-ganti,” jelasnya. Ketika KHPI mengadakan kegiatan bersepeda bersama melalui program Green Sunday, respon warga juga minim. “Sulit banget membuat orang PI mau keluar rumah,” tukas Roosie.

Hanya penghias

Tapi, aneka kendala itu tidak membuat pengurus dan anggota KHPI berkecil hati. Pertemuan membahas aneka kegiatan berbau green terus dilakukan. Saat ini KHPI memiliki sekretariat di kantor RW, Jalan Gedung Hijau, yang disebut Posko 13. Beberapa rencana bisa terselenggara seperti pembuatan peta hijau untuk kawasan PI, beberapa kali pameran, sampai memperoleh penghargaan lomba kota lestari dari Kementerian Pekerjaan Umum (PU).

Bahkan, keseriusan KHPI menjalankan program hijau juga menarik beberapa sponsor dari pihak swasta seperti British Council, Tetra Pack, CIMB Niaga, dan lain-lain, antara lain dalam pembuatan peta hijau, pameran hijau, serta pembuatan stiker dan brosur. “Waktu bikin peta hijau kita jadi tahu kalau di PI itu ada 51 taman. Tamannya terawat tapi tidak pernah dipakai untuk interaksi warga. Jadi, tamannya hanya sebagai penghias (perumahan),” kata Roosie.

Karena itu untuk mempertahankan ruang terbuka hijau (RTH) sekaligus mengajak warga agar mau berinteraksi di taman-taman perumahan, KHPI pernah menyelenggarakan lomba keindahan taman. Sampai saat ini KHPI merupakan komunitas yang tidak mengikat tanpa iuran kenggotaan dan lainlain kendati rutin mengadakan pertemuan. Harapan pengurus, anggota Komunitas terus bertambah sehingga gaung program dan kegiatannya lebih terdengar dan terasa.

Karena sangat sulit mengajak warga perumahan berpartisipasi, KHPI sedang berupaya merumuskan, kira-kira insentif apa yang bisa diberikan untuk membuat warga agar mau berbudaya hidup hijau. “Kalau insentifnya uang, orang PI nggak butuh uang,” ujar Roosie.

Sumber: Majalah HousingEstate

Dapatkan Majalah HousingEstate di toko buku atau agen terdekat. (Lihat: Daftar Retailer) atau Unduh versi digitalnya WayangForce, Scoop & Scanie.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments