Monday, July 15, 2024
Google search engine
HomeUncategorizedMau Untung Investasi Properti, Perhatikan Jumlah Pasokannya - Housing-Estate.com - Portal Berita...

Mau Untung Investasi Properti, Perhatikan Jumlah Pasokannya – Housing-Estate.com – Portal Berita Properti No. 1 di Indonesia

Housing-Estate.com, Jakarta – Properti merupakan salah satu instrumen investasi yang cukup seksi. Harganya yang terus naik signifikan menjadi daya tarik bagi kalangan investor untuk menanamkan dananya di sektor ini. Dalam satu tahun harga rata-rata naik 25-30 persen. Bahkan di lokasi-lokasi tertentu kenaikannya lebih dari itu. Keuntungan investasi properti selain dari kenaikan harga (capital gain) juga dari hasil penyewaan. Karena itu lokasi dan jumlah unit yang ditawarkan pengembang jadi kunci besar kecilnya keuntungan yang akan diraih.

Ilustrasi

Ilustrasi

“Kalau kita investasi ruko dan apartemen jangan membeli di proyek yang penawarannya massal. Properti itu tidak liquit, kalau yang ditawarkan ribuan unit harganya pasti tertekan. Dijual atau disewakan juga susah,” kata R. Sofyan, seorang investor properti yang punya beberapa unit apartemen, ruang kantor strata title, dan rumah.

Ia menyebut di lokasi-lokasi yang penawarannya terbatas dan kawasannya bagus pasti menguntungkan. Menteng (Jakarta Pusat), Pondok Indah dan Kemang (Jakarta Selatan), adalah contoh lokasi-lokasi yang sangat menjanjikan. “Kalau mencari properti di suatu kawasan itu susah, kita pasti mudah menjualnya dan harganya tinggi,” imbuhnya.

Karena itu ia tidak merekomendasi membeli apartemen yang punya beberapa menara dengan jumlah unit banyak. Harganya tetap naik tapi lambat. Investasi rumah dan ruko prinsipnya juga sama. Sofyan menyebutkan temannya yang berinvestasi rumah di pusat pertumbuhan baru di barat Jakarta kesulitan ketika hendak menjual. Di sana ada ribuan unit rumah yang mayoritas pemiliknya investor. Harganya memang naik, tapi itu hanya di atas kertas. “Kalau propertinya tidak dapat dijual kenaikan harga itu tidak artinya. Dapat untung itu propertinya dijual,” katanya.

Ia menyarankan kalau investasi apartemen sebaiknya memilih lokasi pusat bisnis (CBD) atau dekat dengan CBD. Harganya memang tinggi, tapi prospeknya lebih menjanjikan. Sofyan mencontohkan dirinya delapan tahun lalu membeli rumah di Kemang seharga Rp5 miliar. Sekarang rumah itu harga pasarnya sekitar Rp40 miliar. Ia mengaku 50 persen dananya untuk membeli rumah itu pinjaman dari bank. Sementara temannya yang lain punya uang tunai Rp1,5 miliar karena tidak berani pinjam uang bank membeli rumah di Depok secara tunai. “Sekarang setelah delapan tahun nilai rumah dia tidak ada apa-apanya disbanding rumah saya. “Jadi, kejelian membaca prospek dan keberanian meminjam uang bank untuk tujuan produktif  itu jangan dihindari,” katanya.

 

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments