Monday, July 15, 2024
Google search engine
HomeUncategorizedKembali ke Masa Silam di Tjong A Fie Mansion - Housing-Estate.com -...

Kembali ke Masa Silam di Tjong A Fie Mansion – Housing-Estate.com – Portal Berita Properti No. 1 di Indonesia

Housing-Estate.com, Jakarta – Memasuki rumah yang sudah berusia lebih dari satu abad ini seakan membawa kita ke sebuah kejayaan masa silam. Jejak-jejak kemewahan sudah terpampang sejak gerbang hingga ke sisi paling belakang. Rumah dua lantai di Jalan Kesawan Medan ini adalah rumah Tjong A Fie, pengusaha Medan keturunan Tionghoa yang hidup pada tahun 1860-1921.

Rumah dua lantai ini adalah persembahan untuk istri ketiganya, Lim Koei-yap, kelahiran Binjai, keturunan Melayu – Tionghoa. Dibangun selama lima tahun, rumah dua lantai ini berkonsep rumah adat Tionghoa. Tapi di mansion seluas 6.000 m2 ini juga terlihat banyak sekali elemen arsitektur Melayu dan Eropa, mengingatkan kita akan era Baba dan Nyonya. Semuanya menggambarkan bagaimana seorang Tjong A Fie sangat menghormati negeri tempatnya hidup saat itu, sekaligus ingin menununjukkan status sosialnya, seorang Mayor Tionghoa yang lebih hebat dari warga Belanda.

Gerbang Tjong A Fie Mansion

Gerbang Tjong A Fie Mansion

Tidak seperti kebanyakan rumah etnis Tionghoa, rumah besar Tjong A Fie ini cukup terbuka. Siapa pun bisa melongok ke halaman depan rumah dari jalan yang kini kedua sisinya dipenuhi aneka bangunan komersial dua-tiga lantai. Sebuah gerbang tinggi, dengan empat daun pintu, menjadi penanda sekaligus “batas” propertinya.

Konsep rumah etnis Tionghoa hadir di bagian dalam, dengan keberadaan innercourt dan ruang sembahyang di bagian tengah rumah. Detil elemen arsitektur Melayu terlihat di bagian pintu dan jendela serta ornamen interior lainnya. Sementara kemegahan Eropa hadir dari digunakannya mural di bagian atap yang mengingatkan mansion di Eropa, serta  chandelier dan tegel bergaya klasik yang diekspor antara lain dari Swedia dan Itali. Juga dengan keberadaan sebuah ballroom di lantai dua, di sisi depan yang memang ditujukan sebagai ruang pesta dan perjamuan bagi relasi Tjong A Fie, warga Belanda dan Eropa lainnya.

Eksterior Tjong A Fie Mansion

Eksterior Tjong A Fie Mansion

Dibuka untuk publik pada tahun 2009, sebelumnya rumah ini ditempati oleh anak-anak Tjong A Fie. Mereka menempati layaknya hunian biasa. Kini salah satu dari ketujuh anak tersebut menempati rumah di sisi belakang, yang sebagian halamannya kita bisa intip dari ruang makan yang berada di belakang ruang sembahyang.

Karena memang sebagai tempat tinggal, di rumah ini kita masih mendapati jejak-jejak keluarga kaya ini. Seperti di kamar di sisi kiri, di sini kita bisa melihat sekaligus merasakan suasana kamar tidur Tjong A Fie beserta istrinya. Semua barang masih asli, termasuk timbangan badan dan vacum cleaner peninggalan mereka. Menyeberang innercourt, kita bisa melihat suasana kamar anak mereka. Tidak beda dengan kamar orang tua, di kamar ini kita juga melihat aneka furnitur warisan masa silam. Perabot warisan itu sebagian juga dipajang di ruang makan keluarga di sisi belakang. Di ruang inilah, di masa tuanya, Nyonya Tjong A Fie sering menjamu kolega dan keluarga besarnya.

Terpisah dengan rumah induk, terdapat bangunan dua lantai, yang memiliki dua fungsi. Bagian atas menjadi kamar-kamar para asisten rumah tangga, sementara di bagian bawah selain area servis juga menjadi ruamng-ruang kerja Tjong A Fie. Sebuah kertas berukuran poster berbingkai di salah satu sudut, tertera wasiat Tjong A Fie yang ditujukan kepada seluruh keturunannya. Salah satu wasiatnya adalah agar keturunannya mau memberikan sedekah kepada siapa pun yang membutuhkan tanpa melihat suku, agama dan keturunan.

Ruang makan

Ruang makan

Innercourt ke sisi depan

Innercourt ke sisi depan

Bagi warga Medan, Tjong A Fie tenar tidak saja sebagai orang kaya, juga sebagai orang yang rajin berderma tanpa melihat status, golongan dan agama.  “Warisan”-nya mulai dari kelenteng di jalan Kling  dan Pulo Brayan yang kini menjadi tempat pemakamannya, juga Mesjid Raya Medan yang mana sepertiga biaya pembangunannya, ditanggung oleh Tjong A Fie. Tidak heran ketika meninggal, berduyun-duyun warga segala bangsa mengantar kepergiannya. Dan kini, rumah peninggalannya menjadi salah satu cagar budaya Kota Medan.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments