Monday, July 15, 2024
Google search engine
HomeUncategorizedCurcol Jokowi Pada Acara Pencanangan Sejuta Rumah

Curcol Jokowi Pada Acara Pencanangan Sejuta Rumah

Lihat tampilan baru di housingestate.id

Housing-Estate.com, Jakarta – Saat meresmikan program pembangunan sejuta rumah yang dipusatkan di Ungaran, Semarang, Jawa Tengah, Presiden Joko Widodo (Jokowi) sempat curcol alias curhat colongan (istilah curcol kerap dipakai untuk menyampaikan sesuatu dengan hal yang tidak berhubungan secara langsung) saat menyampaikan sambutannya.

Jokowi sama sekali tidak membaca sambutan yang diserahkan oleh ajudannya. Dengan gaya khasnya, Jokowi menyampaikan banyaknya orang yang tidak sabar dan menyebut pemerintah tidak bekerja. Padahal, segala sesuatu di pemerintahan membutuhkan aturan dan mekanisme yang harus dipenuhi, misalnya pengesahan APBN yang baru dilakukan pertengahan Januari 2015 dan harus menunggu lagi untuk pencairannya.

Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo

Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo

“Saya banyak ditanya desa-desa, katanya mau kasih dana untuk desa, lha ini APBN aja baru diketok, prosesnya bisa 1-2 bulan sampai dananya baru cair. Kartu Indonesia Sehat sudah siap 28 juta, Kartu Indonesia Pintar siap 20 juta, tapi sekali lagi menunggu proses, tidak bisa instan,” ujarnya saat memberikan sambutan sebelum meresmikan groundbreaking sejuta rumah, Rabu (29/4).

Jokowi memberikan contoh lain. Proyek transportasi MRT di Jakarta merupakan proyek yang sudah diwacanakan sejak 26 tahun yang lalu dan baru bisa berjalan sekarang ini. Kemudian kita membandingkan dengan proyek yang sudah ada di Cina maupun Jepang, jadinya memang pemerintah seperti tidak bekerja.

“Banyak yang mengeluh pemerintah cuma bisa ngomong doang, tapi nyatanya memang butuh proses. Saya sampaikan di sini, proyek jalan tol trans Sumatera besok akan saya resmikan, karena dananya memang baru cair. Dana untuk desa juga ada, tapi bertahap,” imbuhnya.

Jokowi juga mengajak untuk menghentikan sikap berpikiran negatif dan mengubahnya menjadi positive thinking dan keyakinan bahwa kita bangsa yang besar dan bisa menyelesaikan permasalahan bangsa. Bila terus-terusan berpikiran negatif, yang akan terjadi adalah hal negatif juga.

“Saya berhadapan dengan PBB, IMF, World Bank, ADB, pede saja wong kita bangsa besar, kita juga termasuk negara G20 karena ekonominya terbesar. Saya juga nggak ragu untuk melakukan pinjaman, selama untuk hal produktif seperti pembangunan jalan ataupun perumahan. Kalau pinjam untuk subsidi BBM itu yang saya nggak mau,” tandasnya.

Lihat tampilan baru di housingestate.id

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments