Saturday, April 13, 2024
Google search engine
HomeUncategorizedTiongkok Bangun 300 Proyek Infrastruktur Senilai Rp14 Biliun

Tiongkok Bangun 300 Proyek Infrastruktur Senilai Rp14 Biliun

Lihat tampilan baru di housingestate.id

Housing-Estate.com, Jakarta – Pembangunan infrastruktur besar-besaran membuat Tiongkok berkembang sangat cepat.  Pertumbuhan propertinya juga melaju kencang dan kota-kota besar Tiongkok menjadi gemerlap. Tahun ini pembangunan infrastrukturnya lebih dasyat lagi. Pemerintah Tiongkok akan membangun 300 proyek infrastrukturnya senilai 7 triliun yuan, lebih dari Rp14,2 biliun. Proyek ambisius itu untuk menjaga pertumbuhannya tidak merosot di bawah 7 persen.

Perdana Menteri Utama Li Keqiang sudah menyetujui proyek tersebut. Bahkan, menurut informasi yang didapat Bloomberg, pemerintah RRT akan memperluas  hingga 400 proyek dengan investasi 10 triliun yuan (Rp20 biliun) selama dua tahun pertama, hingga 2016. Pola persetujuan sejumlah proyek ini berbeda dengan sebelumnya, di mana sebelumnya pemerintah melakukan persetujuan per proyek.

ilustrasi

ilustrasi

Kondisi buruk sudah diprediksi sejak awal. Pada kuartal pertama 2015, analis Deutsche Bank AG memproyeksi Tiongkok hanya tumbuh 6,8 persen, sehingga bank sentral akan mengeluarkan kebijakan moneter baru.  Hal senada dikemukakan ekonom dari Hong Kong Zhang Zhiwei.  “Kami memperkirakan tingkat pertumbuhan pada kuartal pertama akan turun dan akan ada kebijakan-kebijakan untuk memuluskan pertumbuhan di tahun ini,” katanya.   Zhang bahkan mengibaratkan Tiongkok seperti  “jatuh tertimpa tangga”, tingkat investasi properti melemah dan penjualan tanah oleh pemerintah akan menurun.

Untuk pengembangan infrastruktur itu pemerintah akan mengerahkan semua potensi, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, BUMN, dan utang. Menurut Li Pumin, juru bicara National Development and Reform Commission (NDRC), Bappenas-nya RRT, investasi akan dibuka untuk tujuh industri,  yaitu minyak dan gas, kesehatan, energi bersumber non polutan, transportasi dan pertambangan.  NDRC masih meneliti sektor-sektor lain yang mungkin harus didukung pemerintah agar bisa tumbuh lebih tinggi.

Upaya itu dilakukan karena pemerintah Tiongkok tidak mau memberi stimulus besar-besaran karena tidak ingin rasio hutangnya terhadap PDB lebih dari 200 persen. Itu sebabnya tahun lalu bank sentral menambah likuiditas di pasar dan menurunkan tingkat suku bunga.

Menurut data  Biro Statistik Nasional Tiongkok, total investasi aset tetap negara dalam 11 bulan tahun 2014 berjumlah 45,1 triliun yuan  (Rp9,1 biliun).

Dalam periode yang sama, investasi untuk pengembangan infrastruktur senilai 9,8 triliun yuan, setara Rp20 biliun. Yaitu untuk pembangunan transportasi, lingkungan dan pengelolaan air, serta untuk pasokan gas, air dan panas bumi.

Lihat tampilan baru di housingestate.id

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments