Tuesday, June 18, 2024
Google search engine
HomeUncategorizedSuplai Apartemen Tinggi, Pasar Masih Stagnan

Suplai Apartemen Tinggi, Pasar Masih Stagnan

Lihat tampilan baru di housingestate.id

Housing-Estate.com, Jakarta – Jakarta, housing-estate.com-Konsultan properti Colliers International Indonesia menyampaikan laporan tiga bulanan ketiga (Q3) 2017 mengenai pasar properti di Jabodetabek dan Bali meliputi perkantoran, apartemen, ritel, hotel (Jakarta-Bali) dan kawasan industri. Colliers menyoroti pasar apartemen di Jabodetabek yang total suplainya akan mencapai 15.277  unit hingga akhir tahun 2017 dan diproyeksikan mencapai 34 ribu tahun depan.

Ilustrasi apartemen di Jakarta. (Foto: Susilo Waluyo/HousingEstate)

Ilustrasi apartemen di Jakarta. (Foto: Susilo Waluyo/HousingEstate)

“Apartemen baru masuk secara bergantian dan memecah fokus pembeli. Developer kasih harga yang impresif, marketing effort-nya menggoda konsumen. Kelihatannya di awal bagus penjualannya, tapi beberapa bulan bisa melambat karena ekspektasi pembeli berkurang,” jelas Ferry Salanto, Senior Associate Director Colliers International Indonesia, kepada pers di Jakarta, Rabu (4/10/2017).

Tingkat penjualan turun dari 86,5 persen ke 84,9 persen di kuartal ketiga tahun ini karena pertumbuhan harga apartemen tidak sesuai ekspektasi konsumen yang lazimnya mencapai 10-15 persen per tahun. Kelas menengah atas yang punya kemampuan membeli sangat melihat kondisi makro ekonomi dan politik dengan sangat ketat sehingga menahan untuk membeli apartemen.

“Bagi mereka (kelas menengah atas) buat apa beli kalau tidak menghasilkan. Sekarang situasinya harga tidak bergerak, suplai melimpah, capital gain hanya 4,6 persen per tahun, rental market (Pasar sewa) juga belum berkembang,” urai lulusan Teknik Komputer Universitas Gunadarma, Jakarta, itu.

Sedangkan pembeli dari kelas menengah bawah sangat concern terhadap besaran uang muka dan cicilan yang terjangkau. Menurut data yang dihimpun Colliers, pembeli yang menggunakan fasilitas kredit kepemilikan apartemen (KPA) saat ini lebih banyak daripada tiga tahun lalu. “Pelonggaran LTV (loan to value) atau plafon kredit dan bunga rendah sangat berperan. Tapi, penurunan bunga BI-7 day reverse repo rate menjadi 4,25 persen akhir September lalu belum diikuti penurunan bunga kredit,” kata Ferry.

Di luar apartemen, tren pasar perkantoran kini meningkat pada ruang kantor yang sudah siap pakai (fitted-out)  dan menjamurnya penawaran co-working space serta private office di lokasi-lokasi premium. “Minat pasar tinggi, bukan window shopping lagi tapi sudah tahap eksekusi untuk ruang-ruang kantor yang layak pakai, ditinggalkan pemilik lama tapi masih ada isinya. Tinggal diubah-ubah sedikit bagian resepsionisnya,” ujarnya.

Harga sewa dan okupansi perkantoran di area kawasan bisnis (CBD) dan di luar CBD cenderung menurun. Okupansi perkantoran rata-rata di CBD dari 83,3 persen menjadi 78,5 persen, dan di luar CBD stagnan dari 83,5 persen menjadi 83,3 persen.

Di sektor ritel, tutupnya beberapa gerai besar di pusat perbelanjaan mengindikasikan peminat berkurang karena konsumen makin selektif berbelanja. Okupansi mal menurun hingga 83,5 persen di kwartal tiga. “Kalau gerai tutup bukan salah, tapi memang nggak diminati. Sementara biaya mal mahal. Ritel itu simpel, kalau masyarakat duitnya banyak, pasti tumbuh,” kata Steve Sudijanto, Senior Associate Director Retail Services Colliers Indonesia.

Pendapatan yang digunakan untuk konsumsi (disposable income) saat ini, menurut Steve, lebih banyak untuk makan-makan dan minum-minum di mal sebagai bagian dari gaya hidup masa kini. Sementara mengutip survei Nielsen mengenai kehadiran toko online di Indonesia, sejauh baru sekitar satu persen yang reguler berbelanja secara online. Selebihnya orang Indonesia masih merasa nyaman pergi ke toko fisik untuk berbelanja.

Lihat tampilan baru di housingestate.id

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments