Monday, May 27, 2024
Google search engine
HomeUncategorizedReklamasi Rugikan Masyarakat Luas - Housing-Estate.com - Portal Berita Properti No. 1...

Reklamasi Rugikan Masyarakat Luas – Housing-Estate.com – Portal Berita Properti No. 1 di Indonesia

Housing-Estate.com, Jakarta – Proyek reklamasi di pantai utara Jakarta yang mencuat ke permukaan karena kasus suap pembahasan Raperda Reklamasi dipertanyakan manfaatnya terhadap masyarakat. Proyek ini  dipandang sebagai hasil kolusi antara pengusaha dengan eksekutif yang mengedepankan kepentingan ekonomi mereka. Kepentingan masyarakat nelayan di pantai utara Jakarta diabaikan, mereka akan tergusur dan kehilangan sumber penghidupannya.

Ilustrasi Reklamasi

Ilustrasi Reklamasi

“Para nelayan akan sulit melaut karena terhalang tanggul raksasa (giant sea wall) yang menjadi bagian proyek reklamasi. Mereka itu itu kalau melaut harus mlipir tanggul raksasa kemudian masuk area tangkap di Bekasi atau Tangerang. Mereka tidak dapat lagi melaut di Jakarta,” ujar pemerhati lingkungan dan Koordinator Peta Hijau Jakarta, Nirwono Joga, kepada housing-estate.com di Jakarta, Minggu (3/4).

Proyek-proyek yang memanfaatkan sumber daya publik dan ada campur tangan negara,  seperti proyek reklamasi, seharusnya memberi manfaat kepada masyarakat khususnya masyarakat lokal. Tapi yang terjadi justru sebaliknya, nelayan lokal tidak diakomodasi. Nirwono mengakui dalam rencana pengembangan lahan reklamasi disebutkan aka nada pembangunan rumah susun sewa (rusunawa) untuk masyarakat menengah bawah dan nelayan.

Tapi itu dinilai sebagai kamuflase untuk mendapatkan izin. Masyarakat kelas bawah bakal kesulitan tinggal di kawasan reklamasi karena semuanya serba mahal. Air dan listrik tarifnya bakal lebih mahal dari di darat karena dibebani biaya lebih mahal. Belum termasuk masalah transportasi untuk kalangan kelas bawah. “Bagi masyarakat kelas bawah hitungan ekonominya tidak masuk kalau tinggal di kawasan reklamasi,” ujarnya.

Selain masalah ekonomi proyek reklamasi juga tidak layak secara lingkungan. Proyek tersebut akan mematikan 32 km dari 35 km hutan mangrove yang ada di pantai utara Jakarta. Tanaman tersebut membutuhkan ombak atau gelombang laut secara terus-menerus. Dengan adanya giant sea wall sebagai penahan gelombang mangrove perlahan-lahan akan mati. “Selain itu ada 13 sungai yang mengalir ke pantai utara, kalau lautnya ditutup di hulu dan di antara pulau reklamasi akan penuh sampah. Itu mengerikan, inilah yang saya sebut bunuh diri ekologis,” imbuh Nirwono.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments