Wednesday, June 12, 2024
Google search engine
HomeUncategorizedPemerintah Diminta Tidak Campur Tangan Soal Installment

Pemerintah Diminta Tidak Campur Tangan Soal Installment

Housing-Estate.com, Jakarta – Pengembang mengeluarkan berbagai pola pembayaran untuk menjual produk propertinya. Yang paling umum untuk produk apartemen, hampir semua pengembang menerapkan cara bayar tunai bertahap (installment). Sistem ini diterapkan kepada konsumen untuk mencicil hingga lunas unit apartemen yang dibeli atau mencicil uang muka 30 persen, sisanya dibiayai bank dengan KPA.

Ilustrasi

Ilustrasi

Dengan pertimbangan melindungi kepentingan konsumen pemerintah menginginkan pembayaran tunai bertahap punya dasar aturan yang jelas. Ada legalitas yang dijadikan pegangan bersama. Tapi menurut mantan Sekretaris Jenderal Realestat Indonesia (REI) Alwi Bagir Mulachela, cara bayar tunai bertahap seperti ini telah menggerakkan perekonomian yang nilainya tidak kecil.

“Bayangkan saja, kalau uang muka KPA 30 persen, berarti ada 70 persen yang masuk pasar uang masyarakat (angsuran ke developer). Tiba-tiba yang 70 persen ini distop, pastinya ini over heated untuk bisnis. Pemerintah ini mau bantu kelancaran bisnis apa mau mematikan bisnis,” katanya di sebuah acara diskusi yang diselenggarakan REI di Bekasi, Selasa (20/10).

Alwi juga menyayangkan adanya intensifikasi penerimaan pajak dengan melihat pembayaran pajak penjualan developer sejak beberapa tahun lalu. Menurut Alwi, ketika penerimaan pajak tidak sesuai target kalangan pengembang selalu dijadikan sasaran. Ia mengistilahkan pemerintah lebih senang berburu di kebun binatang ketimbang di hutan. Seharusnya pemerintah memperluas obyek wajib pajak dan jangan mencari celah dari pembayar pajak yang selama ini sudah taat. Ia menyebut saat ini cukup banyak pengembang perorangan yang beroperasi tanpa bendera perusahaan (PT). Mereka ini tidak membayar pajak seperti yang dilakukan perusahaan.

“Saya tanya sama pengembang yang nggak pakai PT, katanya repot urusan sama pemerintah, belum jualan mesti setor dulu, makanya pada nggak bikin PT. Yang seperti ini mestinya dibenahi. Bisnis properti kita sangat besar, makanya harus diatur dengan baik. Indikator besarnya bisnis properti, lihat aja gedung perkawinan, selama penuh terus itu artinya pasar properti akan tetap bagus karena orang kawin pasti ujungnya cari rumah,” tandasnya.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments