Friday, April 19, 2024
Google search engine
HomeUncategorizedIni Program Perumahan Calon Gubernur DKI - Housing-Estate.com - Portal Berita Properti...

Ini Program Perumahan Calon Gubernur DKI – Housing-Estate.com – Portal Berita Properti No. 1 di Indonesia

Housing-Estate.com, Jakarta – Masalah perumahan di Jakarta masih menjadi pekerjaan rumah yang memerlukan perhatian dan solusi kongkret dari Pemprov DKI. Cukup banyak anggota masyarakat tinggal di hunian tidak layak di kawasan terlarang, seperti bantaran kali, pinggir real, dan lain-lain. Pemprov DKI sudah merencanakan pembangunan rumah susun di sejumlah lokasi tapi realisasinya belum sesuai harapan.

Seperti kota-kota besar lain kesiapan lahan menjadi kendala penyediaan hunian di Jakarta.  Hal ini seharusnya tidak perlu menjadi hembatan karena Pemprov DKI Jakarta punya aset lahan yang bisa dibangun rumah susun. Karena itu visi dan komitmen Gubernur DKI di bidang perumahan menjadi sangat penting. Inilah yang perlu dikemukakan pasangan calon gubernur/wakil gubernur DKI Jakarta tahun 2016-2021 bila ingin terpilih.

Tiga pasangan calon gubernur/wakil gubernur DKI, yaitu Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Syaiful Hidayat, dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno sudah memaparkan programnya di bidang perumahan yang dikemukakan dalam berbagai kesempatan kampanye. Berikut garis besar programnya.

Agus-Sylvi

Agus Harimurti Yudoyono

Agus Harimurti Yudoyono

Agus yang mengundurkan diri dari dinas kemiliteran dengan pangkat Mayor cukup piawai menyebutkan berbagai kendala perumahan di Jakarta. Ia menyatakan Jakarta kekurangan rumah (backlog) sebanyak 300 ribu unit. Angka ini akan terus bertambah bila tidak segera diatasi karena tingginya tingkat urbanisasi ke Jakarta.

Menurut sulung dari mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)  ini tingkat kepemilikan rumah di Jakarta masih rendah yaitu sekitar 47 persen. Sebagian besar masyarakat hanya mampu menyewa, kost, bahkan menumpang. Permasalahan lainnya masih banyaknya pemukiman kumuh yang perlu dibenahi.

“Kawasan kumuh di Jakarta luasnya mencapai 1.000 ha yang sebagian besar lokasinya di sepanjang 13 aliran sungai di Jakarta. Makanya program perumahan utama yang saya tawarkan adalah membenahi kawasan kumuh sekaligus mengurangi banjir,” ujarnya saat berkampanye di Kuningan, Jakarta Selatan, akhir pekan lalu.

Prinsip yang akan dijalankan Agus membangun tanpa menggusur atau pembangunan dilakukan di lokasi masyarakat tersebut tinggal sehingga tidak ada penggusuran. Dengan begitu pembangunan akan melibatkan komunitas masyarakat setempat dan warga di situ akan diupayakan untuk bisa memiliki rumah sehingga tidak perlu menyewa lagi.

Pembangunan akan dilakukan secara terintegrasi dengan menyediakan tempat usaha, fasilitas dan sarana/pra sarana lainnya. Permukiman tersebut akan diintegrasikan dengan transportasi umum dan fasilitas penunjang lainnya. Tahun pertama Agus memprioritaskan perbaikan 390 ha kawasan kumuh di sepanjang aliran sungai dengan membangun sekitar 700 tower rumah susun (rusun) berjumlah 300 ribu unit dan 3.000 tempat usaha termasuk fasilitas komersial. Ia optimias program ini akan mendorong perkembangan beragam jenis industri dan jasa terkait. Ia menyebut multiplier effect dari bidang ini bisa mencapai Rp900 triliun.

“Perhitungan saya untuk membangun bidang perumahan ini dibutuhkan investasi sebesar Rp300 triliun. Nantinya anggaran Rp75 triliun disediakan oleh Pemprov DKI dan Rp225 triliun dikerjasamakan dengan swasta. Saya yakin dengan seperti ini masalah perumahan bisa terselesaikan sekaligus menata kawasan kumuh,” pungkasnya.

Basuki-Djarot

Basuki Tjahaja Purnama

Basuki Tjahaja Purnama

Calon petahana ini menawarkan program kerja dengan sertifikasi tanah di kawasan yang kerap dilanda banjir. Basuki berjanji akan membangun apartemen dan pemilik tanah diberi penggantian unit apartemen 2,5 kali luas lahannya. Misalnya warga punya tanah 100 m2 maka dia akan mendapatkan unit apartemen seluas 250 m2.

Menurut  Basuki, ini solusi paling logis untuk menata kawasan yang sudah sangat padat. Dengan cara seperti ini lahan tersebut tetap menjadi milik masyarakat dan tidak dijual ke pengembang yang nantinya malah dikembangkan untuk properti komersial dan masyarakat malah tergusur.

“Jadi kita akan membangun apartemen di atas tanah milik warga sehingga mereka tidak tergusur. Saya targetkan untuk mengurus sertifikasi ini memakan waktu dua tahun, kalau kita ganti 2,5 kali masa nggak mau? Bila tanahnya 100 m2 dan unit rusun ukuran 36 m2 dia akan dapat 4-5 unit. Rusun  bisa untuk keluarga atau disewakan,” ujarnya Basuki saat berkampanye di Cipete, Jakarta Selatan, Selasa (6/12).

Model pembangunan seperti ini sekaligus juga untuk menata kawasan sehingga wilayah yang tadinya banjir menjadi tidak banjir lagi. Bila kembali terpilih Basuki  menjanjikan sebelum tahun 2018 berakhir kawasan DKI akan lebih tertata dan tidak banjir.

 

Anies-Sandiaga

Anies Baswedan

Anies Baswedan

Program perumahan pasangan ketiga dipaparkan calon Wakil Gubernur Sandiaga Uno saat berkampanye di Grogol, Jakarta Barat, Selasa (6/12). Sandiaga menyebut akan membuat program perumahan di Jakarta yang sangat realistis namun bisa efektif dengan fokus perumahan dan biaya hidup murah.

“Kami memastikan adanya skema pembiayaan maupun pendanaan perumahan murah dan jangka panjang untuk masyarakat. Kita tidak bicara 10-20 tahun tapi pendanaan hingga 30-50 tahun sehingga yang baru lulus sekolah sudah bisa langsung mencicil dengan jangka panjang,” katanya.

Sandiaga menilai programnya sangat realistis. Jakarta sebagai barometer perekonomian nasional punya dana mencukupi untuk merealisasikan program tersebut. Skema pendanaan jangka panjang itu tinggal dilaksanakan dan memberikan akses kepada masyarakat. Dengan skema ini harapannya setiap warga Jakarta bisa memiliki rumah dan ini bisa diwariskan.

Konsep ini sudah diterapkan di negara-negara maju yang pemerintahnya mengambil peran penuh di bidang perumahan warga. Contohnya Singapura memiliki Housing Development Board (HDB).  Model perumahannya akan disesuaikan dan yang paling cocok diterapkan di lapangan. Modelnya bisa berupa kompleks perumahan, kampung susun, atau kampung deret. “Program perumahan ini bisa dilakukan dalam satu tarik kayuhan. Ini karena multiplier effect sektor perumahan sangat luas dan akan menciptakan lapangan kerja sangat luas,” pungkasnya.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments