Lihat tampilan baru di housingestate.id
Housing-Estate.com, Jakarta – Pembangunan hunian vertikal atau apartemen di kota-kota besar beberapa tahun belakanga semakin marak. Apartemen murah semacam rumah susun hingga mewah dibangun pengembang di berbagai kawasan perkotaan. Perkembangan ini bukan terdorong tren tapi perkembangan alamiah sebuah kota terkait lahan yang kian terbatas dan pertumbuhan jumlah penduduk. Apartemen adalah keniscayaan bagi kota besar, bukan hanya di Indonesia tapi di seluruh dunia.
Menurut Lilia Sukotjo, Direktur Pemasaran PT Alam Sutera Tbk, pengembang apartemen Kota Ayodhya di Kota Tangerang, Banten, perkembangan kota yang kian padat dan mengarah menjadi kota jasa akan menggeser kegiatan pendukungnya ke pinggiran. Sementara hunian di pusat kota bergerak vertikal. “Dari zaman dulu seperti itu, di Paris, New York, San Francisco, Los Angeles, begitu pun Jakarta,” katanya.
Pengembangan hunian secara vertikal akan memudahkan penataan di pusat kota baik infrastruktur maupun zoning. Lilia mengakui mengatur pengembangan horizontal development memang sulit. Pemerintah sudah sejak tahun 1991 mencanangkan Jakarta Metropolitan Development Plan and Review untuk mendorong kegiatan pendukung bergerak ke pinggir. Salah satunya membangun akses tol lingkar luar Jakarta (JORR W1 dan W2).
Masyarakat saat ini juga sudah mulai terbiasa dan dapat menerima tinggal di apartemen. Ini tampak dari penjualan apartemen yang cukup bagus di semua kawasan perkotaan. Tren penjualan tersebut memang terkait dengan pembeli investor yang jumlahnya banyak. Tapi enduser (pemakai) entah menyewa atau membeli juga bertambah banyak. Buktinya tingkat hunian sejumlah apartemen di Jakarta dan kawasan sekitarnya cukup tinggi.
Saat ini pekerjaan rumah yang perlu segera diselesaikan adalah dukungan infrastruktur. “Pembangunan infrastruktur kota selalu kalah cepat dengan perkembangan bisnis dan mobilitas manusianya,” ujar Lilia. Yudis
Lihat tampilan baru di housingestate.id