Tuesday, June 18, 2024
Google search engine
HomeUncategorizedApartemen Terintegrasi Transportasi Massal Makin Jadi Nilai Jual - Housing-Estate.com - Portal...

Apartemen Terintegrasi Transportasi Massal Makin Jadi Nilai Jual – Housing-Estate.com – Portal Berita Properti No. 1 di Indonesia

Housing-Estate.com, Jakarta – Dulu hampir tidak ada pengembang properti yang menjadikan transportasi umum sebagai nilai jual proyeknya, bahkan properti menengah ke bawah sekalipun. Kalaupun ada, tidak disampaikan secara terbuka atau dipromosikan secara intens.

Apartemen The Green Pramuka

Apartemen The Green Pramuka | Foto : gambarrumahweb.wordpress.com

Beda dengan sekarang. Menyusul masifnya pembangunan moda transportasi massal seperti mass rapid transit (MRT) dan light rail transit (LRT), menyusul bus rapid transit (BRT) seperti busway serta kereta komuter, di megapolitan Jakarta dan sekitarnya (Jabodetabek) ditambah beberapa kota besar lain seperti Palembang, Bandung, dan Surabaya, para pengembang properti semua segmen tidak sungkan lagi secara terbuka menjadikan akses transportasi umum sebagai nilai jual proyeknya.

Apalagi, dengan lalu lintas yang kian macet karena makin masifnya penggunaan kendaraan pribadi. Pengembangan hunian terpadu (mixed use development) terintegrasi dengan transportasi massal atau kerennya disebut transit oriented development (TOD) pun menjadi tren.

Menurut Rudy Herjanto Saputra, Direktur Utama PT Duta Paramindo Sejahtera, pengembang mixed use Green Pramuka City (12,9 ha), Jl Jend A Yani, Jakarta Pusat, melalui rilis yang dikirim Direktur Marketing Green Pramuka City Jeffry Yamin di Jakarta, Rabu (4/10/2017), pengembangan properti dengan konsep TOD harus didukung pengembang apartemen di Jakarta.

Green Pramuka sendiri disebutnya sejak awal dikembangkan terintegrasi dengan jaringan transportasi umum, terutama busway selain tidak jauh dari jalur kereta komuter Jakarta-Bekasi. Pengembang juga menyediakan shelter bus Damri rute Jakarta-Bandara dan pool layanan kendaraan online untuk memudahkan penghuni menggunakan transportasi publik.

“TOD sejak awal menjadi konsep pengembangan Green Pramuka yang mengintegrasikan hunian, pusat bisnis dan komersial dengan jaringan transportasi publik,” katanya.

Ia menambahkan, properti yang dikembangkan dengan konsep TOD sebaiknya berupa mixed-use development yang mencampur beberapa fungsi di satu lokasi. Jadi, di kawasan penghuni bisa berdiam sekaligus bekerja dan memenuhi aneka kebutuhannya dengan mobilitas cukup berjalan kaki atau bersepeda. Sementara ke luar kawasan menggunakan angkutan umum yang mudah diakses dari tempat tinggalnya. Dengan demikian mobilitas menjadi efisien, kemacetan lalu lintas, polusi, dan penggunaan energi bisa dikurangi.

Menurut Rudy, penyediaan jejaring atau integrasi proyek dengan angkutan massal oleh pengembang itu makin penting menjelang pelaksanaan Pergub DKI Nomor 25 Tahun 2017 tentang pengendalian lalu lintas melalui electronic road pricing (ERP). Ada sembilan ruas jalan yang akan terkena aturan jalan berbayar itu di Jakarta. Yaitu, Jalan Sisingamangaraja, Jalan Jenderal Sudirman, Jalan MH Thamrin, Jalan Medan Merdeka Barat, Jalan Majapahit, Jalan Gajah Mada, Jalan Hayam Wuruk, Jalan Jenderal Gatot Subroto, dan Jalan HR Rasuna Said.

“Dengan kebijakan itu pergerakan masyarakat akan makin tergantung pada moda transportasi umum. Bagi penghuni Green Pramuka (yang terkoneksi angkutan massal), hal itu menguntungkan. Penghuni lebih mudah mencapai tujuannya, kemacetan jalan berkurang, begitu pula kebutuhan area parkir sehingga (lahannya) dapat dimanfaatkan untuk ruang terbuka,” jelasnya.

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -
Google search engine

Most Popular

Recent Comments